DURI

Ulangi dan berkali,
Menjadi ampas di antara kisah dan kasih,
Tidak!!!
Sejatinya, itu hanya duri,
Duri yang tertidur untuk hidup dan menusuk kembali..
Aku bosan,
Bosan dengan retorika di alunan episode merah jambu,
Di ujung senja yang tak terengkuh oleh waktu,
Ah,
Palsu.

Kali ini,
Di tempat ini,
Dan hujan ini,
Aku masih begini,
Menjadikan duri sebagai senjata dalam episode pagi
Di retorika yang akan berarti,
Di warna utopia pelangi..

Advertisements

KARENA LANGIT CINTA TAK SELALU CERAH

Karena langit cinta tak selalu cerah
Maka dari itu aku tak menyerah
Mendurikan kristal menjadi butiran saga mega,
Untuk dalam penuh angkuh hati yang merindu,
Sejak malam tak sampaikan salam pada matahari,
Mungkin awan tak beranjak dari sudut sudut pertahanannya,
Karena tak ingin waktu memanggilnya dengan dentang keras,

Karena langit cinta tak selalu cerah,
sebab itu aku tahu ujung pena menulis ringkasan parafrase di ujung senja,
yang tak terbatahkan oleh ombak, sehingga malam sampaikan salam pada pagi,
Pada hujan yang terisakkan dan terhiburkan oleh pelangi,

Karena langit cinta tak selalu cerah
maka biarkanlah aku mengalah atas angkuhku supaya cinta hadir dengan cahaya.

KARENA MEREKA TIDAK TAHU

KARENA MEREKA TIDAK TAHU
Bismillah…
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (QS Al Israa’ : 28).
Tugasku memang belum selesai, dan takkan pernah selesai sampai ajal menjemputku. Tugasku sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada mereka. Yah, seandainya mereka tahu bahwa aku lebih memahami arti keberbaktian itu setelah aku hijrah di manhaj salaf tentunya mereka melarangku untuk bermajelis dengan orang yang berilmu. Seandainya mereka tahu akan hal itu.
Ya, walaupun aku harus mengurungkan dulu niat mulia ku untuk menuntut ilmu din yang syar’i. walaupun aku harus berikhtilath di lembaga yang bernama kuliah. Walaupun aku harus membungkam keinginan-keinginanku dalam menjalani sunnah. Walaupun aku harus mengorbankan diriku yang memang tak sebanding dengan apa yang mereka korbankan untukku. Aku mencoba menjadi anak yang terbaik bagi mereka. Mempersembahkan cintaku kepada mereka sebagai investasi mereka yaitu mencoba menjadi anak yang sholihah. Namun, ternyata hal itu dipandang sia-sia bagi mereka, dipandang tak berguna, dan dipandang ekstrim. Yah, biarkan aku diam daripada aku harus membela diri. Namun sayang kediamanku dibilang keras. Kediamanku dikatakan membantah ucapan mereka.
Seandainya mereka tahu akan hal itu…
Ya, seandainya mereka tahu, betapa sering aku menangis karena membayangkan aku tak dapat membahagiakan mereka nantinya. Sungguh tersedak-sedak aku membunyikan tangisanku jikalau aku membayangkan itu. Namun, aku bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah menampakkan sayang di hadapan mereka, yang menampakkan wajah melankolis di hadapan mereka. Aku selalu berusaha menjadi kuat di hadapan mereka.
Seandainya mereka tahu akan hal itu..
Betapa indahnya manhaj yang mulia ini mengajarkan untuk berbakti kepada orangtuanya. Betapa indahnya bagaimana mengajarkan kasih sayang kepada orangtua. Betapa indahnya mengajarkan untuk tetap menaati selama tidak dalam kemaksiatan. Yah, meskipun aku memang belum bisa 100 persen menjalaninya.
Seandainya mereka tahu akan hal itu..
Di zaman yang fitnah ini, tentunya kemuliaan seorang muslim adalah bagaimana dia mendalami dan menjalani sunnah ketika banyak yang meninggalkannya. Yah, sebagaimana insan yang mulia (sholallahu’alayhi wassalam) yang memuji orang-orang asing, “berbahagialah”.
Yah, sungguh aku memang bukanlah permata yang berharga bagi mereka, mungkin hanya sebutir pasir. Aku hanyalah seorang manusia yang ingin membahagiakan mereka, tidak hanya di dunia ini namun juga di akhirat nanti. Aku ingin menjadikan mereka bahagia dan aku ingin mereka tak tahu bahwa aku telah membahagiakan mereka. Aku ingin membahagiakan mereka walaupun aku harus bersembunyi. Yah, aku tak pernah berhenti berharap agar Alloh memberikan hidayah kepada mereka untuk berdiri bersamaku agar sama-sama membela dan mengamalkan sunnah.
***

Aku membaca di sebuah layar sambil menangis..
“Mereka tidak tahu ukh.. iyaa mereka tidak tah. Karena mereka tidak tahu, makanya seperti itu.. seandainya mereka tahu, mungkin mereka ga akan menyia-nyiakan seorang anak yang berpegangteguh di jalan sunnah dan berusaha menjaga iffahnya. Seorang ana, yang mereka rasa kalau anak itu adalah anak yang tidak menuruti perkataan mereka.. padahal jauh dari pandangan itu.. sang anak berusaha sebaik mungkin untuk berbakti kepada keduanya, walaupun merelakan keinginan untuk ke ma’had, keinginan untuk bisa pakai cadar, keinginan menjauhkan diri dari ikhtilat.. itulah ujiannya.. sabar yaa ukhti fillah.. karena dakwah salaf tidak harus mendahulukan keinginan sendiri.. tetaplah berbakti kepada keduanya ukh.. karena bagaimanapun orangtua, kita harus bisa memahami mereka.. berbuat baiklah kepada ibu dan bapak.. jangan kamu berkata ‘ah’. Sungguh ukh, mumpung masih diberi kesempatan untuk bersama mereka.. maka berbaktilah.”
Dan aku tak pernah berhenti berharap agar mereka tahu suatu saat nanti..

***
Permasalahan yang sering turun naik..

EKSTRIMAN MANA DENGAN … ?

Bismillah…

Entah akan berapa kali mencap aku dengan tuduhan-tuduhan itu. Tuduhan yang membuat aku semakin tegar menghadapi ini. Tuduhan yang meyakinkanku bahwa keasingan ini hanyalah sementara. Ekstrim, lebai dan label-label lain yang selalu dilontarkan kepadaku. Ekstriman mana dengan orang-orang yang mengebom di sembarangan tempat dan mengaku itu jihad? Ekstriman mana dengan orang-orang yang berdzikir bersama-sama semalaman sehingga masuk rumah sakit? Lebaian mana dengan orang-orang yang berdemo di jalanan yang membuat kekacauan dengan dalih menyuarakan kebenaran namun nyatanya pengantar menuju pemberontakkan? Lebaian mana dengan orang-orang yang berkeliling dari rumah ke rumah selama 3 sampai 40 hari dengan alasan dakwah tapi malah menyebarkan hadits dhoif?  Lebaian mana dengan mereka yang mulutnya melaknat sahabat Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam sehingga menuduh ummul mu’minin Aisyah radiyallahu’anhu berzina? Ekstrim siapa? Lebaian siapa? Ekstriman mana yang nyata dalam tindakan mereka ingin menyatukan agama-agama yang ada di dunia ini, mengaku Islam namun ingin menyatukan Islam dengan agama lain, ingin menyatukan yang haq dan yang bathil? Yang mana yang berlebihan.

Ketika disebutkan cadar, celana cingkrang, jenggot itu ekstrim karena sering dikenakan oleh teroris, maka apakah jika teroris itu memakai baju safari, jas, kemeja, dan memakai baju yang begitu mungil apakah akan disebutkan bahwa orang-orang itu adalah teroris? Apakah menampakkan syariat Islam pada zaman sekarang dalam berpakaian adalah ekstrim? Apakah menampakkan syariat Islam dalam berpakaian adalah lebai? Apakah karena jarang yang memakainya lantas pantas disebut ketinggalan zaman dan dengan dalih bahwa itu adalah pakaian teroris. Lantas apakah akan disebutkan bahwa Rasulullah adalah teroris? Masya’ Alloh, Apakah tak ketahui dalilnya? Baiklah akan saya tunjukkan hujjahnya dari Quran dan Sunnah,

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka “. (Al-Ahzab: 59)

 

 “Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka.” (HR Ahmad dan Bukhari)

 

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hr Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

 

“Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah kumis dan biarkanlah jenggot (sebagaimana adanya tanpa dikurangi dan dipotong).” (HR. Muslim no. 600)

 

Apakah masih berdalih dengan zaman yang sudah berbeda maka engkau akan meninggalkannya? Ketahuilah, maka apakah sholat jika tidak zamannya lagi maka engkaupun akan menghalalkannya untuk meninggalkannya? Masya’ Alloh. Alangkah terlenanya dunia yang sementara ini, padahal akhirat jauh lebih besar dibanding dunia. Kita Cuma singgah di sini, untuk mengambil bekal menuju perjalanan selanjutnya.

Ketika aku tak mau berjabatan tangan dengan yang bukan mahrom, maka aku pula dituduh sebagai orang yang berlebih-lebihan dan mengada-ada. Lantas apakah pikiran dan perasaan yang mengarahkan bagaimana mestinya bertindak. Pikiran siapa yang akan dituruti karena masing-masing manusia akan menuruti pikiran sendiri, perasaan siapa yang akan dituruti karena masing-masing memiliki perasaan tersendiri. Manusia itu punya aturan untuk membebaskan diri dari hawa nafsu bukan malah menuju hawa nafsu yang akan menjerumuskan ke dalam api yang menyala-nyala. Jika engkau belum tahu atau lupa, aku akan memaparkan dalil tentangnya,

“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahihah no. 226)

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji kaum mukminat yang berhijrah kepada beliau dengan firman Allah ta’ala: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk membaiatmu….” Sampai pada firman-Nya: “Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Urwah berkata, “Aisyah mengatakan: ‘Siapa di antara wanita-wanita yang beriman itu mau menetapkan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut’.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Sungguh aku telah membaiatmu”, beliau nyatakan dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” ‘Aisyah berkata, “Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 4891 dan Muslim no. 4811)

Bagaimanakah? Apakah masih menggunakan pemikiran dan perasaan untuk membantah hadits itu. Silakan bantah, silakan engkau berpegang teguh pada pendapatmu sendiri. Dan saksikanlah bahwa aku telah menyampaikannya.

Kenapa? Kenapa begitu sebenci-bencinya dengan sunnah ini? Islam memang tidak memberatkan, namun juga tak memudah-mudahkan syariat. Syariat Islam telah baku, dan Islam bukan hanya sholat, puasa, ngaji (tilawah) saja. Islam lebih dari itu menyangkut hal-hal dalam kehidupan kita. Entahlah masihkah asing dengan Islam dan segala syariatnya. Masihkah bertahan di atas tahta ego yang mendalam? Wallohu musta’an.

Ketika melihat mereka yang dzikir berjama’ah maka dikatakan bahwa mereka itu sungguh baik dalam beribadah, mereka yang mengadakan tahlilan, yasinan, ulangtahun kematian 40 hari dan sebagainya dianggap pula sebagai ajaran Islam. Yaa insan, apakah engkau tahu asal muasal itu? Apakah ada dalil yang mengatakan itu syariat Islam. Jikalau dalil hanyalah, “kata ustadz itu begini” atau “kata ustadz ini begitu” maka alangkah mirip dengan kerbau yang dicucuk hidungnya. Akan kuhadirkan dalilnya di sini dari sabdanya Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam,

“Kasihanilah diri-diri kalian sesungguhnya kalian tidaklah meminta kepada yang tuli dan tidak hadir.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika aku menjaga diri dari pergaulan bebas maka aku pula dituduh si eksklusif. Apakah tidak berpacaran itu eksklusif? Jika demikian aku rela dicap sebagai eksklusif. Begitu banyak kerusakan yang disebabkan karena pacaran. Begitu sering aku mendengar yang pacaran terjerumus MBA (Married by Accident). Begitu sering aku mendengar ada yang bunuh diri karena diputuskan oleh sang kekasih. Benarkah pacaran adalah jalan mendapatkan jodoh? Jika memang demikian kenapa banyak yang mendapatkan jodoh namun mereka tak pacaran. Wahai, jodoh kita telah dituliskan namanya di lauhul mahfuz. Namun yang mesti diperhatikan adalah bagaimana engkau menjemput jodohmu itu? Jalan yang benarkah atau jalan yang burukkah?

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ya, karena aku takut menjadi fitnah yang akan mengantarkan aku menuju kerusakkan dan akhirnya mengakibatkan aku berada di lembah neraka, maka aku harus menjaga diri dan kehormatanku. Aku ingin menjadi wanita sholihah. Aku takut ketika aku adalah salah satu dari kebanyakkan penghuni neraka yang wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam,

“Wahai sekalian kaum wanita, bershadaqahlah! Karena aku melihat bahwa kalianlah orang terbanyak yang menghuni neraka (selanjutnya ditulis: An-Naar). (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 304 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Apalagi? Apalagi yang dirasakan asing terhadap apa yang aku lakukan? Apalagi yang serasa asing di mata kebanyakkan orang? Ketika dikatakan, “Biasa sajalah, tak usah berlebihan”, maka aku jawab apakah berlebihan ketika aku menegakkan sunnah yang telah diwasiatkan kepada ummatnya sampai hari kiamat?

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi mayoritas dari kalian membenci kebenaran itu.” (Az-Zukhruf: 78)

Inilah jalan itu? Jalan yang terang. Jalan yang mempunyai dasar dari Quran, Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Jangan dipungkiri. Janganlah dibenci. Jika engkau membenci berarti engkau turut menyumbangkan kebencian terhadap Islam dan membuat kafir tersenyum senang padamu. Wahai jiwa, semoga Alloh menunjukki hidayah dan memberi ampunan padamu juga padaku. Allohu musta’an.

 

***

Di saat dia membujuk orang yang kusayangi untuk melarangku di jalan sunnah..

Balada Cahaya dan Seorang Gadis…

Bismillah..
Gadis itu menerawang di cakrawala,
Mencoba berdialog di antara pikiran dan hati,
Senyum menjadi semakin sepi,
Di kala untaian harap seolah pergi,
Di antara buih yang ia pandang, ia melihat ke ujung samudera,
Yah, setidaknya hanya itu menjadikannya tenang untuk berapa saat.
Sesudah itu pikirannya menyerang,
Kronis…
Miris…
“Apakah semua harus seperti ini? Mengapa? Persetan dengan semuanya”
Begitulah lontaran di hatinya.
Lagi, dia pandangi biru langit
Supaya dia lihat apa ada jawabnya di sana?
Kosong.
Tak ada tanda jawaban di sana.
Dia pulang.
Berharap esok tak ada lagi pikiran yang belum ada jawabnya.
***
“Sesuatu?” lirih dia mengulang kata itu.
Dia mencoba untuk tersenyum walaupun kaku,
Sembari mengantarkan diri di bait doanya,
Di kala mendung itu semakin memburukkan semua pikirannya,
Ada cahaya yang terselip,
Matanya tersilau namun bukan menutupi cahaya itu,
Tetap dia pandang,
Tetap dia amati,
Karena baginya begitu merugi ketika cahaya itu terlewati begitu saja,
Bukankah cahaya itu yang mengungkap semua jawaban di ujung penantian?
Yah, kembali dialognya bertebaran di antara bimbang.
Tik.
Tik.
Tik.
“Aku tak ingin mengulur waktu lagi.” Lirihnya.
***
Gadis itu menatapi langit biru,
Meneropong ujung samudera,
Bermain dengan tarian ombak,
Menjengkali tiap butiran pasir,
Dan senyum terkembang di kala riang terbayang,
Hatinya berkata, “Selamat datang cahaya, kusambut dirimu dengan bismillah.”

13 Ramadhan 1432 H
12 Agustus ‘11

CATATAN LAMA

Bismillah…

 

Aku ingin menjadi asing,

dimana mereka menganggapku aneh dengan pakaianku,

dimana mereka menganggapku bergabung dengan sekte sesat,

dimana mereka menganggapku sok suci dengan tidak menanggapi tangan mereka.

 

Aku ingin menjadi asing,

biarkan stigma itu terus mengejarku,

karena aku tak peduli,

kulebih memilih jalan ini biarkan aku dianggap asing,

karena bersama Allah yang lebih kuinginkan dibanding mengikuti mereka.

 

Biarkan memilih dipenjara oleh keasingan,

seperti Yusuf yang lebih memilih dirinya dipenjara darpada memenuhi ajakan Zulaikha.

“Ya Allah aku lebih memilih penjara daripada memenuhi ajakan mereka”

 

Biarkan aku memilih berhijrah,

layaknya para sahabat yang melakukan perjalan jauh menuju munawaroh,

meskipun kampung halaman yang tercinta mereka tinggalkan.

 

Biarkanlah aku memilih jalan asing,

 karena aku yakin Allah bersamaku

(Ghurabaa’ atau Gerobak oleh Pasukan Ghuraba’ Menuju Syahid)

***

 

Itu barisan yang kuciptakan ketika dulu sekali..entah, atas dasar apa aku menciptakan tulisan itu..Yah, dulu sebelum aku berada di manhaj ini aku menuliskan bait-bait ini, yang aku tak paham apa itu asing, apa itu alghuraba’, dan apa itu salafy.. Aku hanya menuliskan saja dulu, tulis berdasarkan apa yang ada dipikiranku…Mengalir saja..Sekarang, aku membaca arsip tulisan lamaku, aku menemukan bait2 itu yang sungguh tak kusangka bahwa aku pernah menuliskan ini..Tulisan itu? Ah, masa itu? Ah, Dunia itu? Segalanya prosesku..Membuat aku tersenyum.. Alhamdulillah, Alloh menunjukiku jalan ini, jalan yang pernah aku sebutkan aku tulisan itu.. Jalan yang asing..Maka, benarlah sabda Rasulullah sholallahu’alayhi wassalam,

“Berbahagialah orang-orang yang asing (al-ghuraba’)” (HR Muslim dan HR Ahmad)..

(Iffah al Fahima)

Allohua’lam..

Yang Aku Rindukan, Welcome…

Bismillahirohmanirrohim…
Engkau akan datang lagi ternyata. Aku memang sedang menantikanmu. Yah, aku tahu engkau membawa bekal yang banyak untukku. Apa? Ada persyaratannya? Ah, mengapa engkau bilang ada persyaratan? Bukankah aku sangat menantikan kedatanganmu? Bukankah itu telah cukup bagiku untuk mendapatkan apa yang engkau bawa untukku? Memang aku tahu persyaratan itu, dan aku akan mencoba untuk memenuhi persyaratan itu, insya’ Alloh. Dan aku harus jujur bahwa aku sangat merindukanmu. Sudah satu tahun aku tak bertemu dengamu. Terakhir kali bertemu denganmu oleh-oleh yang engkau berikah sungguh membuat aku terharu sehingga tangisan itu melebur di pipiku. Yah, tahun kemarin adalah di mana aku pertama kali merasakan manisnya manhaj ini sekaligus dimana konsekuensinya diasingkan. Namun, entahlah itu menyurutkan langkahku. Justru aku senang dimana engkau tetap memberikan semangat dengan berkahmu yang sangat banyak yang diberikan Allah padamu untuk dibagikan pada ummat Muhammad sholallahu’alayhi wassalam.
Ini adalah tahun kedua aku akan bertemu denganmu di atas manhaj salaf ini. Sungguh, jika dipilih satu saja anugrah yang indah yang pernah dirasakan setelah aku dilahirkan sebagai seorang muslim, maka aku akan memilih bahwa anugrah yang paling indah itu adalah hidayah bagiku untuk meniti jalan para salafush sholeh. Sungguh bagiku itu sangat mahal karena kebanyakkan orang tidak mengetahui mutiara ini. Meskipun terkadang pertentangan di antara orang-orang yang kusayangi itu ada. Aku senang engkau hadir sebagai pelipur laraku di saat itu. Sekarangpun engkau akan menyediakan tempat seluas-luasnya bagimu di hatiku, insya’ Alloh. Dan kau tahu, aku sangat merindumu.
Aku banyak membaca tentangmu untuk mempersiapkan kedatanganmu. Yah, mungkin aku agak sedikit sok berilmu sekarang, namun lebih baik begitu daripada aku tak tahu apa-apa dalam menyambutmu. Ternyata, banyak yang belum aku tahu tentangmu. Sehingga dulu seringkali aku terjebak dalam hal-hal yang seolah-olah disyariatkan namun nyatanya tidak. Ah, malu juga aku mengingat itu. Namun satu yang tak pernah berubah, aku selalu merindukan kedatanganmu, baik dulu, sekarang, dan nanti. Insya’ Alloh.
Aku tahu engkau spesial, bahkan sangat spesial. Dulu, aku menganggapmu spesial karena masa kanakku yang bermain bersama teman-temanku pada saat tarawih. Menjadikan tarawih sebagai mainan. Pura-pura sholat namun ternyata tidak. Atau saat di akhir-akhir kebersamaan denganmu malah makan-makan kue buatan untuk lebaran di shaf belakang. Atau juga dengan petasan dan kembang api saat yang lain sedang shalat tarawih. Ya, itulah masa kanakku dalam merindukanmu. Lain lagi dalam masa remajaku, berbincang ria saat di sela antar tarawih satu yang akan berlanjut tarawih berikutnya. Yah, apakah itu yang kurindukan? Baik dulu maupun sekarang sejatinya bukan karena itu yang membuatku merindukanmu. Namun sesuatu. Sesuatu yang entah aku tak tahu mengatakan apa. Sesuatu yang membuat hati ini menjadi begitu terharu jika menghayatinya. Apakah karena keberkahanmu? Mungkin iya sehingga sampai saat ini rindu itu tetap ada.
Tahun ini, aku tak ingin menyia-nyiakan mu. Aku ingin mendapatkan doorprize yang ada padamu. Hehm, jika engkau menganggap bahwa aku hanya ingin menginginkan hadiah atau doorprize saja, bukan itu saja. Bahkan aku sungguh suka semua yang padamu. Karena amalan sholeh itu menjadi lipatan-lipatan pahala bagiku yang akan menemaniku nanti di kala aku sendiri di alam kubur. Sehingga nanti pintu Ar-Royan bersedia terbuka untukku. Hehm, bisakah? Aku akan mencoba semampuku.
Dalam hitungan hari ini aku menunggumu datang karena aku merindukanmu. Ah, begitu banyak yang tak bisa kuungkapkan untuk kehadiranmu ini. Aku tak tahu masih adakah bagiku untuk bertemu pada tahun berikutnya? Ah, itu rahasia Alloh. Sehingga aku akan menghidupkanmu di hatiku ini sebagai seorang yang ingin menjejaki jalan salafush sholeh.
Selamat datang kembali Ramadhan, kutunggu engkau di pintu penantianku sembari tersenyum dan mengharapkan kemuliaanmu. Welcome, semoga rindu ini meluap saat aku menjalani puasa bersamamu dan segenap peluang amal yang disyariatkan..
(Pada H-4 sebelum Ramadhan datang)
Allahua’lam..